LHOKSEUMAWE – Museum Kota Lhokseumawe didorong untuk bertransformasi menjadi pusat edukasi sejarah dan kebudayaan yang lebih hidup, interaktif, serta mampu menarik minat masyarakat, khususnya generasi muda.
Pesan tersebut menjadi perhatian dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 Museum Kota Lhokseumawe yang ditandai dengan pembukaan pameran temporer koleksi museum, Senin, (02/11/2026).
Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., melalui Sekretaris Daerah (Sekda) A. Haris, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa museum tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda-benda peninggalan sejarah. Lebih dari itu, museum harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menarik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang perjalanan sejarah serta kekayaan budaya daerah.
Menurut Haris, diperlukan terobosan dan kreativitas pengelola dalam menyajikan koleksi museum. Informasi mengenai benda bersejarah harus disampaikan dengan cara yang mudah dipahami, didukung pelayanan yang ramah dan komunikatif.
Salah satu inovasi yang disarankan adalah pemanfaatan teknologi audiovisual atau video untuk menjelaskan identitas, fungsi, serta nilai sejarah setiap koleksi. Dengan pendekatan tersebut, pengunjung tidak sekadar melihat benda-benda lama, tetapi juga memahami cerita dan makna di balik keberadaannya.
Ia turut mencontohkan Museum Aceh dan Museum Tsunami Aceh sebagai referensi dalam mengembangkan pola penyajian informasi dan pengalaman kunjungan.
Haris juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga warisan budaya. Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe diminta lebih aktif membuka ruang bagi pelajar untuk mengenal sejarah, mempelajari kesenian tradisional, hingga mempraktikkan berbagai seni budaya daerah.
“Pertahankan budaya kita. Anak-anak harus diberi ruang datang ke museum. Di tempat ini mereka bisa belajar, mengetahui, dan mempraktikkan tarian yang sudah dipelajari,” ujarnya.
Festival Budaya Libatkan Pelajar Empat Kecamatan
Semangat menghidupkan museum dan melestarikan budaya lokal turut diwujudkan melalui Pameran Temporer dan Festival Seni dan Budaya yang berlangsung selama tiga hari, 29–31 Oktober 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe tersebut mengusung tema “Menghidupkan Sejarah dan Melestarikan Budaya Lokal”.
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Sekda A. Haris, didampingi Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Fauzi, S.Pd., M.Pd., Sekretaris Dinas Sri Aryati, S.Pd., M.Pd., serta Kepala Bidang Kebudayaan Abdul Fathah, S.Ag.
Festival ini tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan koleksi museum, tetapi juga wadah bagi pelajar untuk menampilkan kemampuan dan kreativitas di bidang seni.
Sejumlah perlombaan digelar, di antaranya Hikayat, Rapai, Canang, Baca Puisi, dan Vokal Solo. Pesertanya berasal dari sekolah-sekolah di empat kecamatan dalam wilayah Kota Lhokseumawe.
Antusiasme peserta tahun ini disebut lebih meriah dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang apresiasi seni dan budaya masih mendapat tempat di kalangan pelajar.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup pada Sabtu (31/10/2026) oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Fauzi, yang dirangkai dengan penyerahan hadiah dan penghargaan kepada para pemenang.
Dalam kesempatan itu, Fauzi menyampaikan apresiasi kepada panitia, petugas keamanan, serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) atas dukungan mereka sehingga seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.
Namun, ia mengingatkan bahwa pelestarian seni dan budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan perlombaan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Sekolah diharapkan mengambil bagian lebih besar dengan membangun kegiatan seni dan budaya secara rutin di lingkungan pendidikan masing-masing.
“Lomba seni dan budaya ini penting untuk menjaga nilai-nilai seni budaya di Lhokseumawe. Kami berharap kegiatan seperti ini juga dilaksanakan di setiap sekolah,” katanya.
Museum Harus Tetap Hidup Setelah Festival
Peringatan HUT ke-8 menjadi momentum penting bagi Museum Kota Lhokseumawe untuk memperkuat perannya sebagai ruang publik yang edukatif dan berorientasi pada pelestarian identitas daerah.
Tantangan berikutnya adalah memastikan museum tetap ramai dan produktif setelah rangkaian perayaan berakhir.
Inovasi teknologi, penyajian koleksi yang informatif, peningkatan kualitas pelayanan, serta program kunjungan sekolah dan komunitas perlu menjadi agenda berkelanjutan.
Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi tempat mengenang masa lalu, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk memahami sejarah, mencintai budaya, dan menjaga warisan daerah bagi masa depan.(*)
.png)

