,

Iklan

Trump Klaim AS–Iran Hampir Capai Kesepakatan Nuklir

Wartapos
17 Apr 2026, 10:19 WIB Last Updated 2026-04-17T03:19:17Z




Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa Washington dan Teheran kini berada di ambang kesepakatan besar terkait konflik serta program nuklir Iran.

Trump menyebut peluang tercapainya kesepakatan tersebut “sangat besar”. Ia bahkan mengungkapkan bahwa Iran telah menyetujui untuk mengembalikan uranium yang telah diperkaya sebagai bagian dari kompromi.

“Mereka telah setuju untuk mengembalikan uranium tersebut kepada kita,” ujar Trump kepada wartawan, seperti dikutip Agence France-Presse, Jumat (17/4/2026).
Pengayaan uranium hingga tingkat 90 persen diketahui dapat digunakan untuk pengembangan senjata nuklir. Karena itu, isu pengendalian material nuklir menjadi poin krusial dalam perundingan kedua negara.

Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Teheran terkait pernyataan tersebut. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa proses negosiasi masih berlangsung dan belum mencapai kesepakatan final.

Perbedaan utama masih terjadi terkait durasi penghentian pengayaan uranium. Amerika Serikat menginginkan pembatasan jangka panjang, sementara Iran hanya menawarkan pembatasan sementara serta tetap menuntut pengakuan atas hak pengayaan untuk tujuan damai.

Di tengah proses diplomasi, pemerintah AS tetap memberikan tekanan melalui ancaman militer dan sanksi ekonomi apabila kesepakatan gagal tercapai. Washington menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS, JD Vance, memimpin perundingan di Islamabad, Pakistan. Namun, pertemuan tersebut dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan, meskipun komunikasi antara kedua pihak masih terus berlanjut.

Sebagai bagian dari opsi kompromi, Iran disebut membuka kemungkinan untuk mengirim sebagian cadangan uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga. Namun, Teheran tetap menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk kepentingan damai, bukan pengembangan senjata.

Ketegangan geopolitik ini turut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat naik 3,24 persen menjadi sekitar US$98,01 per barel, atau setara Rp1,67 juta (kurs Rp17.000/US$).

Sementara itu, upaya mediasi terus dilakukan, termasuk melalui peran Pakistan. Putaran negosiasi lanjutan diperkirakan akan digelar dalam waktu dekat. Trump bahkan membuka kemungkinan untuk hadir langsung apabila kesepakatan berhasil difinalisasi.(*)


Sumber :CNBC Indonesia

Iklan