ACEH UTARA — Beragam potensi sektor perkebunan dan peternakan ditampilkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui stand Dinas Perkebunan,,Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnakkeswan) dalam rangkaian peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 yang dipusatkan di kawasan Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon.
Salah satu yang menjadi perhatian pengunjung adalah sosok lembu Brahmana yang dijadikan ikon pada stand tersebut. Namun, lembu yang ditampilkan bukan berupa hewan ternak secara langsung, melainkan sebuah karya berbentuk lembu Brahmana yang dibuat dari bahan kayu dan telah melalui proses ukiran.
Keberadaan ukiran lembu Brahmana tersebut tidak sekadar menjadi hiasan untuk mempercantik stand. Simbol itu sekaligus menggambarkan salah satu potensi peternakan yang terus dikembangkan di Kabupaten Aceh Utara.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Aceh Utara, Erwandi, SP, mengatakan stand Disbunkeswan sengaja menampilkan berbagai produk dan inovasi yang berkaitan dengan sektor perkebunan serta peternakan.
Menurutnya, masyarakat yang berkunjung diharapkan tidak hanya melihat pameran sebagai bagian dari kemeriahan Milad Samudera Pasai ke-800, tetapi juga memperoleh informasi mengenai berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.
Selain ukiran lembu Brahmana, stand tersebut juga menampilkan berbagai peralatan pendukung sektor peternakan. Salah satunya adalah mesin pemotong pakan ternak yang diperkenalkan sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu peternak dalam mempersiapkan pakan bagi ternaknya.
Penggunaan mesin tersebut dinilai dapat membantu mempercepat proses pemotongan bahan pakan, terutama bagi peternak yang mengelola ternak dalam jumlah cukup banyak.
"Melalui stand ini kita ingin memperlihatkan kepada masyarakat berbagai potensi dan inovasi yang ada di sektor perkebunan maupun peternakan," ujar Erwandi, Kamis 10 September 2026.
Tidak hanya berkaitan dengan ternak, Disbunkeswan juga memamerkan berbagai jenis tanaman perkebunan. Tanaman-tanaman tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkenalkan komoditas perkebunan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan lahan secara produktif.
Menariknya, salah satu tanaman yang dipamerkan juga menjadi perhatian karena memiliki kemampuan dalam membantu menyerap air hujan ke dalam tanah. Tanaman tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari konsep vegetasi yang dapat mendukung konservasi tanah dan air.
Kemampuan tanaman dalam membantu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah dinilai memiliki kaitan erat dengan upaya mengurangi limpasan air permukaan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Dalam kondisi tertentu, air hujan yang tidak mampu meresap ke dalam tanah dapat mengalir di permukaan dan berpotensi memperbesar genangan maupun banjir. Karena itu, keberadaan tanaman dengan sistem perakaran yang baik dapat menjadi salah satu bagian dari upaya konservasi lingkungan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi masyarakat Aceh Utara yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi persoalan banjir di sejumlah wilayah.
Melalui pameran tersebut, masyarakat diajak melihat bahwa penanganan persoalan lingkungan tidak semata-mata bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga dapat dilakukan melalui pengelolaan lahan, penghijauan, serta pemilihan tanaman yang tepat.
Erwandi menjelaskan, sektor perkebunan dan peternakan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat. Keduanya bukan hanya menjadi bagian dari aktivitas ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan, pemanfaatan lahan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, momentum Milad Samudera Pasai ke-800 dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai potensi tersebut kepada masyarakat secara lebih luas.
Stand Disbunkeswan pun tidak hanya menjadi tempat untuk memamerkan produk, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi pengunjung. Masyarakat dapat melihat secara langsung berbagai contoh tanaman perkebunan, teknologi sederhana untuk mendukung peternakan serta simbol-simbol yang menggambarkan potensi peternakan Aceh Utara.
Kehadiran ukiran lembu Brahmana menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Bentuknya yang menyerupai lembu dengan detail ukiran pada bahan kayu membuat banyak pengunjung tertarik memperhatikan dan mengabadikannya.
Di balik karya tersebut terdapat pesan bahwa sektor peternakan masih memiliki ruang besar untuk terus dikembangkan. Lembu Brahmana sendiri dikenal sebagai salah satu jenis sapi yang banyak dikembangkan dalam usaha peternakan karena memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis.
Sementara itu, berbagai tanaman yang dipamerkan memberikan gambaran bahwa sektor perkebunan juga memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Pameran tersebut menjadi semakin menarik karena menyatukan tiga unsur sekaligus, yakni peternakan, perkebunan dan lingkungan.
Ketiganya memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Peternakan membutuhkan ketersediaan pakan, sementara tanaman perkebunan dapat memberikan sumber bahan pakan tertentu. Di sisi lain, pengelolaan tanaman dan lahan yang baik juga dapat membantu menjaga kualitas tanah serta meningkatkan kemampuan lahan dalam menyerap air.
Melalui momentum Milad Samudera Pasai ke-800, Disbunkeswan Aceh Utara ingin menunjukkan bahwa pembangunan sektor pertanian dalam arti luas tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Peringatan 800 tahun Samudera Pasai akhirnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kejayaan sejarah masa lalu, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi daerah dan inovasi yang dapat dikembangkan untuk masa depan.
Stand Disbunkeswan menjadi salah satu gambaran bahwa warisan sejarah Samudera Pasai dapat diiringi dengan semangat membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor perkebunan, peternakan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Dengan berbagai materi yang ditampilkan, masyarakat yang mengunjungi stand tersebut diharapkan dapat memperoleh pengetahuan baru sekaligus melihat secara langsung peluang pengembangan sektor perkebunan dan peternakan di Aceh Utara.
Di tengah kemeriahan Milad Samudera Pasai ke-800, lembu Brahmana dari kayu bukan sekadar ikon pameran, tetapi menjadi simbol potensi peternakan Aceh Utara. Sementara mesin pakan dan beragam tanaman yang dipamerkan menjadi gambaran tentang bagaimana teknologi, pertanian dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dalam membangun daerah.(*)
.png)