,

Iklan

Dari 800 Tahun Sejarah, Lahir 800 Pohon Harapan untuk Masa Depan Aceh Utara

Wartapos
12 Sep 2026, 10:43 WIB Last Updated 2026-09-12T03:43:15Z


ACEH UTARA — Peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 di Kabupaten Aceh Utara tidak sekadar menjadi momentum untuk mengenang kejayaan sebuah peradaban masa lalu. Di kawasan bersejarah Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah, peringatan tersebut diterjemahkan melalui aksi nyata menjaga lingkungan dan merawat warisan sejarah.


Sebanyak 800 pohon ditanam dalam rangkaian peringatan Milad Samudera Pasai ke-800. Penanaman perdana dilakukan secara simbolis oleh Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., atau yang akrab disapa Ayahwa, Jumat (11/9/2026).


Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah, salah satu kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan jejak sejarah dan peradaban Samudera Pasai.


Dalam kegiatan itu, Ayahwa turut didampingi Kapolres Lhokseumawe dan Wakapolres Aceh Utara. Kehadiran unsur Forkopimda tersebut menunjukkan adanya semangat bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat perhatian terhadap kawasan peninggalan sejarah.


Penanaman 800 pohon dipilih bukan tanpa makna. Angka tersebut sengaja diselaraskan dengan usia Samudera Pasai yang telah memasuki 800 tahun. Dengan demikian, setiap pohon yang ditanam menjadi bagian dari pesan simbolik bahwa peringatan sejarah tidak cukup hanya dilakukan dengan mengenang masa lalu, tetapi juga harus diwujudkan melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi generasi mendatang.


Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah sendiri menjadi salah satu peninggalan penting yang merekam perjalanan panjang peradaban Samudera Pasai. Kawasan tersebut bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Aceh Utara.


Karena itu, menjaga kawasan bersejarah sekaligus memperkuat kelestarian lingkungannya menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan warisan tersebut agar tetap dapat dikenali dan dipelajari oleh generasi berikutnya.


Penanaman pohon juga menjadi pesan bahwa lingkungan dan sejarah merupakan dua warisan yang saling berkaitan. Situs sejarah membutuhkan lingkungan yang terawat, sementara lingkungan yang lestari akan menjadi ruang yang lebih baik bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sejarah daerahnya.


Momentum Milad Samudera Pasai ke-800 dengan demikian tidak berhenti pada rangkaian seremoni. Penanaman 800 pohon menjadi simbol bahwa kejayaan masa lalu harus diteruskan dengan kerja nyata untuk membangun masa depan.


Delapan abad Samudera Pasai adalah perjalanan panjang sebuah peradaban. Sementara 800 pohon yang ditanam menjadi simbol perjalanan baru—menanam hari ini untuk kehidupan generasi yang akan datang.


800 tahun Samudera Pasai bukan hanya tentang bagaimana Aceh Utara mengenang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana warisan sejarah, alam dan budaya dijaga agar tetap hidup di masa depan.(*)


Iklan