ACEH UTARA — Peringatan 800 tahun Samudera Pasai menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk mengenang perjalanan panjang sejarah sekaligus memperkuat komitmen menjaga adat, budaya, serta nilai-nilai yang diwariskan para indatu kepada generasi penerus.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. atau yang akrab disapa Ayahwa, saat membuka peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai di Aceh Utara.
Dalam pidatonya, Ayahwa menyampaikan pesan mendalam dalam bahasa Aceh. Ia mengibaratkan kehidupan masyarakat sebagai mata rantai yang saling terhubung, di mana setiap generasi menerima warisan dari leluhur untuk kemudian meneruskannya kepada anak cucu.
“Hudep geutanyoe na lagee sikrek taloe yang meusambong-sambong,” ujar Ayahwa, menggambarkan kehidupan manusia sebagai rangkaian yang terus tersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurutnya, 800 tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan sejarah. Rentang waktu tersebut merupakan catatan panjang yang diwarnai berbagai peristiwa, mulai dari kejayaan dan kemunduran, peperangan dan perdamaian, hingga pergantian generasi.
“Lapan reutoh thon yang ka leupah. Thon yang hana pat ta hitong ngon jaroe nyoe. Thon yang ka meutuleh meubagoe macam kisah. Dalam perjalanan nyan, nakeuh keujayaan, na keusosahan. Na prang, na dame. Na hudep, na mate,” katanya.
Sejarah Bukan Sekadar untuk Dikenang
Ayahwa menegaskan, peringatan 800 tahun Samudera Pasai tidak boleh berhenti pada seremoni ataupun kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu.
Menurutnya, sejarah harus menjadi cermin sekaligus tanggung jawab bagi generasi saat ini untuk menentukan arah masa depan.
“Sejarah yang rayaek hana sep cuma ta ceurita. Sejarah wajeb jeut keu tanggong jaweub geutanyoe,” tegasnya.
Ia mengajak masyarakat Aceh Utara untuk merenungkan satu pertanyaan penting: apa yang akan diwariskan generasi sekarang kepada anak cucu di masa mendatang?
Apakah generasi sekarang hanya akan meninggalkan cerita bahwa Samudera Pasai pernah menjadi kerajaan besar dan berkuasa, atau justru mampu menciptakan masa depan yang juga layak dicatat dalam sejarah?
Ayahwa berharap generasi muda Aceh Utara tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan dunia, tetapi mampu mengambil peran sebagai bagian dari generasi yang menciptakan perubahan.
“Tanyoe perle aneuk muda Aceh Utara bek cuma jeut keu penonton wate donya meu ubah. Tapi awak nyan harus jeut keu bagian dari ureung yang peu-ubah donya nyan keudroe,” ujarnya.
Bangun Aceh Utara dengan Manusia dan Gagasan
Lebih lanjut, Ayahwa mengingatkan bahwa kejayaan suatu daerah tidak semata-mata ditentukan oleh lamanya usia sebuah peradaban. Kualitas manusia yang hidup di dalamnya menjadi faktor utama dalam menentukan masa depan.
Karena itu, ia menyerukan agar pembangunan Aceh Utara tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik.
“Beutanyoe peugot Aceh Utara. Koen cuma ngon beton dan aspal, tapi ngon manusia. Koen cuma ngon anggaran, tapi ngon gagasan. Koen cuma ngon program, tapi ngon hase,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia, gagasan, kerja nyata dan hasil yang dapat dirasakan masyarakat.
Menurut Ayahwa, kebanggaan terhadap masa lalu harus berjalan beriringan dengan keberanian membangun masa depan.
“Koen cuma ngon keubanggaan karena masa dilee, tapi ngon beuhoe ta peulahe masa ukeu,” lanjutnya.
Anak Muda, Ulama dan Pemerintah Harus Bersinergi
Dalam kesempatan tersebut, Ayahwa juga menyampaikan keyakinannya bahwa masa depan Aceh Utara akan tetap terjaga selama generasi muda memiliki keberanian untuk bermimpi, ulama tetap menjaga arah masyarakat, dan pemerintah bersedia mendengar suara rakyat.
“Seulama aneuk muda Aceh Utara mantong beuhoe meulumpoe, seulama ulama mantong geu jaga arah geutanyoe, seulama masyarakat mantong geutem keuriija, dan seulama pemerintah mantong geutem deungoe su rakyat, Aceh Utara han akan pernah gadoh masa ukeu,” ungkapnya.
Ia mengatakan, 800 tahun Samudera Pasai telah menyaksikan pergantian zaman dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kini, masyarakat Aceh Utara berada pada posisi yang sama: menjadi saksi sejarah sekaligus menentukan sejarah berikutnya.
Menurutnya, sejarah seolah tengah menunggu jawaban dari generasi sekarang mengenai apa yang akan mereka tuliskan untuk masa depan.
Warisan Leluhur Harus Dijaga
Menutup pidatonya, Ayahwa kembali mengingatkan masyarakat bahwa tanah Samudera Pasai merupakan tanah yang diwariskan para leluhur dengan darah, pengorbanan dan perjuangan.
Warisan tersebut, kata dia, harus dijaga dan diteruskan kepada anak cucu.
“Yang ta teurimong nibak endatu, dan yang wajeb ta pulang keu aneuk-cucoe. Meunyoe han ek leubeh jroh, han jeut kureueng nibak yang ka na,” pesannya.
Peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai, menurut Ayahwa, harus menjadi titik refleksi bersama agar masyarakat Aceh Utara tidak hanya bangga terhadap sejarah, tetapi juga mampu menciptakan karya dan peradaban baru yang dapat dibanggakan oleh generasi mendatang.
“Selamat Uroe Lahe Bumo Samudra Pasai Aceh Utara keu-800 thon,” tutup Bupati Aceh Utara.(*)
.png)
