,

Iklan

Dari Landeng, Seruan Kebangkitan Aceh Utara Menggema di Milad Samudera Pasai ke-800

Wartapos
10 Sep 2026, 12:28 WIB Last Updated 2026-09-10T07:31:56Z


ACEH UTARA — Ribuan warga dari berbagai kecamatan di Kabupaten Aceh Utara memadati Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara di Landeng, Kecamatan Lhoksukon, Rabu (9/9/2026) malam.


Mereka hadir untuk mengikuti zikir dan tausiyah akbar yang digelar dalam rangkaian peringatan Milad Aceh Utara ke-800 sekaligus mengenang kejayaan dan warisan peradaban Islam Kesultanan Samudera Pasai.


Kegiatan yang mengusung tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat” tersebut menjadi salah satu agenda utama Piasan Pase 2026 yang berlangsung 7–13 September 2026.


Sejak sore, masyarakat mulai berdatangan ke lokasi. Area utama kegiatan, termasuk tenda-tenda yang disediakan panitia, dipenuhi jamaah yang ingin mengikuti tausiyah dan mendengarkan pesan-pesan keagamaan, sejarah, peradaban Islam serta nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan dari masa Kesultanan Samudera Pasai.


Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan sejumlah ulama serta tokoh masyarakat turut hadir di tengah ribuan jamaah.


Dai asal Aceh Barat sekaligus Juara 1 Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026, Tgk. Habibi An-Nawawi, Lc., M.Dipl, tampil sebagai penceramah dalam tabligh akbar tersebut.


Suasana semakin semarak ketika Habibi membuka interaksi dengan jamaah menggunakan sapaan khas Aceh.


“Kalau di tempat lain apa kabar jawabnya baik, kalau di Aceh Utara apa kabar jawabnya bangkit. Apa kabar Aceh Utara, pue haba ureung Aceh Utara,” ujar Habibi yang langsung disambut seruan “bangkit” dari ribuan jamaah.


Delapan Abad Samudera Pasai dan Semangat Kebangkitan

Dalam tausiyahnya, Habibi mengajak masyarakat tidak sekadar mengenang Samudera Pasai sebagai bagian dari masa lalu, tetapi menjadikan sejarah tersebut sebagai sumber inspirasi untuk membangun masa depan Aceh Utara.


Menurutnya, perjalanan panjang Samudera Pasai menunjukkan bahwa masyarakat Aceh memiliki akar sejarah peradaban yang kuat, terutama dalam bidang keislaman, ilmu pengetahuan, perdagangan, kepemimpinan, adat dan tata krama.


Ia mengingatkan masyarakat agar tidak minder terhadap sejarah dan identitas sendiri.


“Jangan kita katakan bahwa kita bangsa yang tidak beradab. Jangan kita katakan bahwa kita tidak punya sejarah dan tidak punya peradaban. Kita mengerti tata krama, kita mengerti sopan santun, kita mengerti bagaimana menyambut dan memuliakan tamu,” tegasnya.


Habibi juga mengangkat catatan perjalanan Ibnu Battutah yang pernah mengunjungi Samudera Pasai. Kisah tersebut, menurutnya, menjadi salah satu gambaran bagaimana kehidupan masyarakat dan pemerintahan Pasai telah dikenal dalam catatan perjalanan dunia.

Ia juga menyinggung sosok Fatahillah yang memiliki keterkaitan dengan Samudera Pasai dan kemudian memainkan peranan penting dalam sejarah perjuangan Islam di tanah Jawa.


Bagi Habibi, rangkaian sejarah tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh Samudera Pasai tidak berhenti di wilayah Aceh Utara, tetapi turut memberi warna terhadap perkembangan Islam dan sejarah Nusantara.


“Memperingati 800 tahun Samudera Pasai bukan sekadar merayakan masa lalu, tetapi kembali ke akar keislaman kita. Adat dan agama ibarat dua sayap satu burung yang harus berjalan seiring,” katanya.


Ia menekankan, keadilan dan keimanan merupakan bagian penting dari fondasi kejayaan Pasai pada masa lalu.


Karena itu, nilai tersebut dinilai relevan untuk dijadikan semangat dalam membangun Aceh Utara saat ini, khususnya melalui peningkatan pendidikan, pembangunan, kesejahteraan masyarakat dan penguatan kehidupan sosial keagamaan.


Ketua Panitia Piasan Pase 2026, M. Jhony, S.H., mengatakan rangkaian peringatan Milad Aceh Utara ke-800 dikemas dalam berbagai kegiatan yang memadukan sejarah, keagamaan, pameran pembangunan, UMKM hingga simulasi mitigasi bencana.


Menurutnya, hingga hari keempat pelaksanaan, antusiasme masyarakat masih tinggi. Ratusan stan yang tersedia juga masih ramai dikunjungi masyarakat dengan berbagai produk kuliner dan UMKM yang ditampilkan.


“Alhamdulillah dari hari pertama sampai hari ini kegiatan berjalan dengan lancar. Malam ini tampil Tgk. Habibi sebagai dai yang ditunggu-tunggu masyarakat. Jadi dalam hal ini mohon dukungan semua elemen agar acara sukses sampai tanggal 13 mendatang,” ujar M. Jhony.


Sebelumnya, agenda tausiyah tersebut sempat mengalami penundaan satu hari dari jadwal semula akibat kendala penerbangan yang disebut terdampak aktivitas erupsi Gunung Krakatau.

Meski demikian, penundaan tersebut tidak mengurangi antusiasme masyarakat. Ribuan jamaah tetap hadir memenuhi lokasi kegiatan.


Tingginya jumlah warga yang datang juga menyebabkan arus lalu lintas di jalan nasional di sekitar kawasan Landeng mengalami kepadatan. Namun, situasi tetap berlangsung tertib dan lancar dengan pengamanan dari aparat gabungan.


Tausiyah kemudian ditutup dengan doa bersama. Jamaah diajak untuk menjaga persatuan, memperkuat syariat Islam, mempertahankan adat dan tata krama serta melestarikan warisan sejarah yang telah ditinggalkan para indatu.


Peringatan Milad Aceh Utara ke-800 dan Piasan Pase 2026 disebut dilaksanakan secara gotong royong dengan dukungan serta sumbangan dari berbagai pihak.


Panitia sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak menggunakan anggaran APBK Aceh Utara.


Hal itu sebagaimana disampaikan Bendahara Panitia, Muslim Syamsudin, serta Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Muntasir Ramli.


Semangat gotong royong tersebut sekaligus menjadi bagian dari pesan besar peringatan delapan abad Samudera Pasai: bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus menjadi energi untuk membangun masa depan.


Dengan tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat”, peringatan tahun ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi momentum bagi masyarakat Aceh Utara untuk kembali menggali nilai-nilai luhur yang pernah mengantarkan Samudera Pasai menjadi salah satu pusat peradaban Islam penting di Nusantara.(*)


Iklan