![]() |
| Ketua Partai Nanggroe Aceh Kota Lhokseumawe yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRK Lhokseumawe, Said Fachri, S.AB.( doc. wartapos.net). |
LHOKSEUMAWE – Ketua Partai Nanggroe Aceh (PNA) Kota Lhokseumawe yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRK Lhokseumawe, Said Fachri, S.AB, menyatakan dukungannya terhadap rencana revitalisasi Waduk Pusong yang dinilai penting untuk memperbaiki tata kota sekaligus mengembalikan fungsi utama waduk tersebut.
Program tersebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam mendorong gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang mengajak seluruh kepala daerah untuk aktif mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 yang digelar 2 Februari 2026 di Sentul, Bogor, Presiden Republik Indonesia menekankan pentingnya komitmen penanganan sampah nasional secara terpadu terhadap lingkungan. “Ini untuk rakyat kita, sampah itu bencana, sampah itu penyakit. Pariwisata tak akan bertahan jika lingkungan kotor,” tegas Prabowo dalam pidatonya.
Maka untuk itu, menurut Said Fachri, revitalisasi Waduk Pusong merupakan langkah yang tepat demi menjaga keindahan Kota Lhokseumawe serta meningkatkan kualitas lingkungan di kawasan tersebut. Ia menilai waduk tersebut memiliki peran strategis bagi kota, terutama sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir dan drainase perkotaan.
“Revitalisasi Waduk Pusong perlu kita dukung bersama. Selain untuk memperindah kawasan kota, langkah ini juga penting agar fungsi waduk sebagai pengendali banjir dan penampungan air dapat berjalan dengan baik,” ujar Said Fachri.
Waduk Pusong sejak awal dibangun sebagai kolam retensi atau tempat penampungan sementara air yang berasal dari berbagai saluran drainase di Kota Lhokseumawe. Air dari parit dan saluran kota dialirkan ke waduk sebelum akhirnya dilepaskan ke laut.
Karena menjadi titik akhir aliran drainase, air yang masuk ke waduk sering membawa limbah rumah tangga dari aktivitas masyarakat, seperti sampah plastik, sisa deterjen dari cucian, limbah dapur, hingga air limbah domestik lainnya.
Kondisi tersebut menyebabkan kualitas air waduk tidak dapat digunakan secara langsung karena berpotensi mengandung berbagai zat pencemar serta bakteri dari limbah domestik.
Said Fachri menjelaskan, keberadaan aktivitas keramba ikan di waduk juga menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan tersebut perlu ditata kembali melalui program revitalisasi.
Menurutnya, selain sisa pakan ikan, kotoran ikan dari keramba juga dapat menambah limbah organik di dalam waduk sehingga air menjadi keruh dan kualitas lingkungan perairan menurun.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa revitalisasi waduk bukan untuk menyalahkan aktivitas masyarakat, melainkan sebagai upaya penataan agar waduk tetap berfungsi dengan baik.
“Kita memahami bahwa waduk ini menjadi tempat aktivitas masyarakat, termasuk budidaya ikan dengan keramba. Namun karena waduk juga menjadi tempat penampungan aliran drainase kota, maka perlu dilakukan penataan agar lingkungan tetap terjaga,” jelasnya.
Secara historis, Waduk Pusong dibangun sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi banjir di kawasan pesisir Kota Lhokseumawe.
Wilayah Pusong yang berada di dataran rendah dekat laut kerap mengalami genangan air saat musim hujan dan ketika air laut pasang.
Karena itu, waduk ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air hujan sebelum dialirkan kembali ke laut.
Berpotensi Menjadi Ikon Wisata Kota
Said Fachri juga menilai bahwa jika revitalisasi dilakukan secara maksimal dan kebersihan waduk dapat terjaga, maka kawasan Waduk Pusong memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu ikon wisata di Kota Lhokseumawe.
Menurutnya, waduk yang tertata dan bersih dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik bagi masyarakat, seperti tempat rekreasi keluarga, area olahraga, hingga lokasi berkumpul bagi warga.
“Kita berharap setelah revitalisasi dan penataan dilakukan, Waduk Pusong dapat menjadi ikon wisata kota. Selain menjadi tempat rekreasi dan olahraga bagi masyarakat, kawasan ini juga bisa membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar,” kata Said Fachri.
Ia menambahkan, berkembangnya kawasan waduk sebagai ruang publik yang nyaman juga berpotensi mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat, seperti usaha kuliner, UMKM, hingga berbagai kegiatan sosial masyarakat.
“Jika dikelola dengan baik, waduk ini tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar serta memperkuat wajah Kota Lhokseumawe sebagai kota yang bersih dan indah,” pungkasnya.(*)
.png)


