![]() |
| Tgk Said Muhammad Ikbal. |
LHOKSEUMAWE - Di tengah arus modernisasi yang kian deras menyentuh kehidupan generasi muda, sosok Tgk. Said Muhammad Ikbal tampil sebagai contoh bagaimana nilai keislaman, pendidikan dayah, dan semangat pengabdian sosial dapat berjalan beriringan.
Pemuda kelahiran Desa Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe ini dijadwalkan menjadi narasumber dalam program siaran Radio RRI Lhokseumawe bertajuk “HP Aneuk Muda, Haba Puasa Aneuk Muda”, Kamis, 26 Februari 2026 pukul 17.00–18.00 WIB di kantor RRI setempat.
Kehadirannya dalam program tersebut bukan sekadar mewakili generasi muda, tetapi juga membawa suara santri yang tumbuh dari lingkungan pendidikan dayah. Tgk Said Muhammad Ikbal dikenal sebagai pemuda yang sedang menuntut ilmu di salah satu pesantren besar di Aceh, lembaga pendidikan yang didirikan oleh ulama kharismatik Aceh, Tgk Muhammad Amin (Abu Tumin), tokoh yang dikenal luas dalam pengembangan pendidikan Islam tradisional di kawasan Bireuen.
Tgk Said merupakan putra pasangan Said Baharuddin dan Erlinawati. Sejak kecil, ia telah akrab dengan nuansa pendidikan agama. Semangat menuntut ilmu membawanya menimba pengetahuan di berbagai dayah, termasuk pernah belajar di Dayah Iinahul di Kota Lhokseumawe. Hingga kini, meskipun sedang menempuh pendidikan di pesantren lain, ia tetap aktif kembali ke dayah tersebut saat musim libur.
Bagi Tgk Said, dayah bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah pengabdian. Saat bulan Ramadan tiba, rutinitasnya semakin padat. Selain menjalankan ibadah puasa, ia juga terlibat membantu para guru mengajar mengaji, mendampingi para santri, serta berkontribusi dalam berbagai kegiatan keagamaan. Peran ini dijalaninya dengan penuh kesadaran bahwa ilmu yang diperoleh tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat.
Kesempatan menjadi narasumber di RRI Lhokseumawe menjadi ruang baru bagi Tgk Said untuk berbagi perspektif. Program “HP Aneuk Muda” dikenal sebagai wadah diskusi yang mengangkat tema kehidupan generasi muda, khususnya dalam konteks sosial dan keagamaan.
Kehadiran Tgk Said diharapkan mampu menghadirkan sudut pandang santri tentang makna puasa, tantangan remaja di era digital, serta bagaimana generasi muda dapat menjaga identitas religius di tengah perkembangan zaman.
Bagi Tgk Said, berbicara di radio bukan semata tampil di ruang publik, tetapi juga menyampaikan pesan moral. Ia meyakini bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum pembentukan karakter. Ramadan, menurutnya, adalah waktu terbaik bagi generasi muda untuk melatih disiplin, memperbaiki akhlak, serta memperkuat hubungan sosial.
Sosok Ikbal mencerminkan wajah pemuda Aceh yang tetap berpegang pada nilai tradisi sambil membuka diri terhadap ruang komunikasi modern. Ia menunjukkan bahwa santri tidak hanya berada di balik dinding dayah, tetapi juga dapat hadir di tengah masyarakat sebagai penggerak nilai, penebar inspirasi, dan penjaga moral sosial.
Kisahnya menjadi gambaran bahwa pendidikan agama masih memiliki tempat kuat di hati generasi muda. Melalui pengabdian di dayah, partisipasi dalam kegiatan sosial, serta keberanian menyuarakan nilai-nilai kebaikan di media, Tgk Said membuktikan bahwa santri mampu menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan.
"Insyaalalh besok sore, saya dapat jadwal menjadi narasumber di radio RRI Lhokseumawe bertajuk "HP Aneuk Muda", Atau Haba Puasa Aneuk Muda.(*)
.png)

